Taubat PDF Cetak E-mail
Kategori : Buletin | Dilihat : 1586 kali
Monday, 24 Safar 1431
Senin, 08 Februari 2010 20:52

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وبعد

Sesungguhnya umur akan digulung dan hari-hari akan berakhir. Sedangkan umur ini pendek, sementara ajal sangat dekat, dan seorang anak cucu Adam tidak akan mengetahui kapan kematian menjemputnya. Berkata seorang penyair :

أشاب الصغير وأفنى الكبير مرور الليالي وكر العشي

إذا ليلة هرمت أختها أتى بعد ذلك يوم فتى

نروح ونغدو لحاجاتنا وحاجات من عاش لا تنقضي

تموت مع المرء حاجاته وحاجات من عاش لا تنقضي

Anak yang kecil menjadi besar dan yang tua meninggal

Sesuai dengan perjalanan malam dan peredaran siang

Apabila malam telah habis masanya datanglah setelahnya hari yang baru

Kita keluar pagi-pagi dan sore hari untuk mencari hajat kita

Dan hajat orang-orang yang hidup tidak akan putus

Berakhir hajat seseorang dengan berakhirnya dia

Sementara hajat orang yang hidup tidak berakhir

Dan Allah Subhaana wa Ta`ala memotivasi hamba-hambaNya untuk bertaubat sebelum datang ajal. Allah Jalla wa `Alaa berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At Tahriim : 8)

Dan Allah Ta`ala juga berfirman :

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur : 31)

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Al-‘Imraan : 135)

Dan Allah Subhaana wa Ta`ala menyeru seluruh hamba hambanya untuk bertaubat, juga menyeru untuk taubat orang yang mengatakan : “Sesungguhnya Allah adalah al- Masih”, dan yang mengatakan paham trinitas, dan yang mengatakan : “Tangan Allah dibelenggu”, dan orang orang yang mendakwakan Allah memiliki anak dan istri, wana`uudzu billahi minasy syaithonir rajiim. Maka Allah mengatakan kepada mereka keseluruhannya :

أَفَلا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Maaidah : 74)

Dan Allah Jalla wa `Alaa juga menyeru Fir`aun untuk bertaubat walaupun dia mendakwakan tidak ada yang berhak untuk diibadahi selain dia, dan dia rabb mereka yang tinggi, lalu Allah mengatakan kepada Musa dan Harun `Alaihimas Salaam :

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى # فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS. Thaaha : 43-44)

Kemudian Allah Tabaaraka wa Ta`ala menyeru kaum musyrikin keseluruhannya untuk bertaubat. Lantas Allah berfirman kepada mereka setelah perintah untuk memerangi mereka dimanapun bertemu dengan mereka :

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui. (QS. At Taubah : 11)

Allah Ta`ala juga menyeru kaum munafiqin untuk bertaubat. Maka Allah berfirman :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا # إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. (QS. An Nisaa : 145-146)

Demikian juga Allah Jalla wa `Alaa menyeru untuk bertaubat kepada siapapun yang mengerjakan dosa-dosa besar yaitu : syirik, membunuh jiwa tanpa kebenaran, dan zina. Maka Allah berfirman :

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاما# يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً # إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, dan barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (Yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqan : 68-70)

Adapun taubat diwajibkan secara langsung dari seluruh dosa-dosa, baik dosa besar atau kecil. Berkata Al Imam Nawawiy rahimahullahu Ta`ala : “Telah sepakat ahli ilmu bahwa taubat dari seluruh maksiat adalah wajib secara langsung, tidak dibolehkan menunda-nundanya, apakah maksiat itu kecil ataupun besar”.1

Di dalam shohih Al-Bukhaariy dan Muslim rahimahullahu Ta`ala, hadist dari jalan Anas bin Maalik radhiallahu `anhu< bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

لله أشد فرحا بتوبة عبده حين يتوب إليه، من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة، فانفلتت منه وعليها طعامه وشرابه، فأيس منها فأتى شجرة فاضطجع في ظلها، قد أيس من راحلته، فبينا هو كذلك إذا هو بها قائمة عنده، فأخذ بخطامها ثم قال من شدة الفرح:" اللهم أنت عبدي وأنا ربك، أخطأ من شدة الفرح

“Allah Jalla wa `Alaa sangat gembira dengan taubat seorang hamba-Nya ketika dia bertaubat kepadaNya, yaitu dari salah seorang kalian yang sedang berada di atas kendaraannya di tanah lapang yang luas, dimana tiba-tiba untanya tersebut lari darinya, yang padahal di atas kendaraanya itu ada makanan dan minumannya, maka dia merasa pesimis akan hal ini dan lantas dia pergi ke satu pohon, lalu tidur di bawah naungan pohon tersebut, dan sungguh dia telah putus asa dari untanya tersebut. Tatkala dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba unta (kendaraan)nya tersebut berdiri disisinya, lantas dia pegang tali kekangnya, kemudian dia berkata dalam keadaan sangat gembira : “Ya Allah! Engkau hamba saya dan saya rabb Engkau”, dia salah dikarenakan sangat gembiranya.”2

Dan yang dimaksud dengan taubat disini ialah Taubatan Nashuuha yang disempurnakan dengan syarat-syaratnya. Adapun syarat-syarat taubat itu ialah : melepaskan diri dari dosa, menyesal dari melakukannya, dan ber`azam untuk tidak melakukannya kembali. Dan sebahagian `ulama menambahkan : al ikhlash karena Allah dalam melakukan taubat tersebut, bukan dikarenakan takut dari sulthon atau karena malu dari manusia atau selain dari demikian; hanya betul-betul mengharapkan ganjaranNya dan takut dari `adzabNya Tabaaraka wa Ta`ala. Kalau seandainya dosa tersebut berhubungan dengan hak bani Adam, maka wajib dipenuhi syarat yang keempat, yaitu hendaklah dia minta dibebaskan dari kesalahan yang dia telah perbuat terhadap bani Adam tersebut.

Dan disyaratkan atas diterimanya taubat tersebut tiga syarat, yaitu :

Pertama : Hendaklah taubat tersebut sebelum nyawa sampai dikerongkongan

Artinya sebelum ruh sampai di dada ketika sudah dekatnya kematian, dan kemudian hadirnya kematian itu. Hal ini sesuai dengan firman Allah Jalla wa `Alaa :

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا # وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran, bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (QS. An Nisaa : 17-18)

Dan Al Imam Tirmidziy telah meriwayatkan satu hadist dari jalan Abdullah bin `Umar radhiallahu `anhuma bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

إن الله عز وجل يقبل توبة العبد ما لم يغرغر

“Sesungguh Allah `Azza wa Jalla akan menerima taubat seorang hamba selagi nyawanya belum sampai dikerongkongan”.3

Kedua : Hendaknya taubat tersebut sebelum terbitnya matahari dari barat. Sebagaimana Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman :

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Rabb engkau atau kedatangan beberapa ayat Rabb engkau. Pada hari datangnya ayat dari Rabb engkau, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: "Tunggulah olehmu, sesungguhnya kamipun menunggu (pula)". (QS. Al-An`aam : 158)

Dan Al-Imam Muslim telah meriwayatkan satu hadist dari jalan Abi Muusa radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

إن الله عز وجل يبسط يده بالليل ليتوب مسيء النهار، ويبسط يده بالنهار ليتوب مسيء الليل، حتى تطلع الشمس من مغربها

”Sesungguhnya Allah `Azza wa Jalla membentangkan tanganNya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat salah disiang hari, kemudian membentangkan tanganNya disiang hari untuk menerima taubat orang yang melakukan kesalahan dimalam hari, sampai terbitnya matahari dari barat”.4

Dan Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dalam shohihnya hadist dari jalan Abu Hurairah radhiallah `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

من تاب قبل أن تطلع الشمس من مغربها تاب الله عليه

“Barang siapa yang taubat sebelum matahari terbit dari barat, Allah Ta`ala akan menerima taubatnya”.5

Ketiga : Hendaklah taubat tersebut sebelum turunnya adzab bagi yang mendurhakai Allah Ta`ala.

Karena umat-umat yang telah dibinasakan dengan adzab, terputus taubat dari mereka ketika mereka telah menyaksikan adzab tersebut. Allah Jalla wa `Alaa berfirman :

فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ # فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّتَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ

“Maka tatkala mereka melihat adzab Kami, mereka berkata: "kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir (mengingkari) dengan apapun yang telah kami persekutukan dengan Allah". Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya, dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir. (QS. Al Mu`min : 84-85)

Dan tidak dikecualikan dari ketetapan (adzab) Allah Subhaana wa Ta`ala, kecuali kepada kaum nabi Yunus `alaihis Sholaatu was Sallaam, karena satu hikmah yang Allah Subhaana wa Ta`ala inginkan, maka Allah Jalla Sya`nuhu berfirman :

فَلَوْلا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu. (QS. Yunus : 98)

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Diterjemahkan oleh al Ustadz Abul Mundzir/Dzul Akmal as Salafiy dari kitab : “Ad Durarul Muntaqooh minal Kalimaatil Mulqooh Duruusun Yaumiyyah”, halaman 395-398, oleh ad Doktor Amin bin `Abdillah as Syaqaawiy.

Rimbo Panjang, Komplek Ma`had Ta`zhim As Sunnah As Salafiyyah, Hari Senin 23 Syawal 1430 H/12 Oktober 2009 M.


1. Syarhu an Nawawiy (6/59).

2. Muslim (2747), al Bukhaariy (6308).

3. At Tirmidziy (3537)

4. Muslim (2759)

5. Muslim (2703)