Keutamaan Berdakwah kepada Allah PDF Cetak E-mail
Kategori : Buletin | Dilihat : 538 kali
Sunday, 22 Rabi'ul Awal 1431
Minggu, 07 Maret 2010 21:18

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وبعد

Sesungguhnya Allah Ta`ala telah menyebutkan sekelompok para anbiya` dalam surat an Nisaa`, kemudian Dia berfirman :

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

“(mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu, dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. An Nisaa` : 165)

Maka Allah Ta`ala telah menjelaskan dalam ayat yang mulia tentang kewajiban mereka adalah mendakwahi manusia kepada Allah Ta`ala sebagai pemberi kabar gembira dan memperingatkan dari kejelekan. Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman kepada NabiNya Shollallahu `alaihi wa Sallam :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراً # وَدَاعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُّنِيراً

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada Din Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi”. (QS. Al Ahzaab :45-46)

Kemudian Allah Ta`ala memerintahkan kepada NabiNya Shollallahu `alaihi wa Sallam untuk menjelaskan kepada ummatnya bahwa tugasnya dan tugas ummatnya adalah berdakwah kepada Allah Ta`ala . Allah Jalla wa `Alaa berfirman :

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah (ya Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam)! "Inilah jalanku, saya dan orang-orang yang mengikuti saya mengajak kepada  Allah diatas ilmu,  Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf : 108)

Maka para Rasul `alaihimus Sholaatu was Salaam dan para pengikutnya diperintahkan untuk menyeru manusia agar mentauhidkan Allah Ta`ala, mentaatiNya Jalla wa `Alaa, dan mengingatkan mereka dari kesyirikan serta maksiat kepadaNya. Dan hal ini merupakan kedudukan yang sangat mulia, martabat yang sangat tinggi bagi orang yang diberi taufiq oleh Allah Ta`ala untuk menunaikan dakwah ini sesuai dengan yang diridhai Allah Ta`ala.

Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fushshilat : 33)

Tatkala orang-orang shalih mengetahui mulianya kewajiban ini, maka bersemangatlah mereka memikulnya, mereka menggapainya bukan hanya dengan berjalan, bahkan mereka menggapainya dengan berlari kepadanya.  Allah Ta`ala berfirman :

وَجَاء مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu". (QS. Yaasin : 20)

Dari Sahl bin Sa`d radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda kepada `Ali tatkala Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam mengutusnya untuk memerangi kaum Yahudi di Khaibar :

انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللَّهِ فِيهِ فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

“Berangkatlah kamu dan berhati-hatilah sampai kamu di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan beritahukan pada mereka akan apa yang diwajibkan atas mereka daripada haq Allah. Demi Allah! Dikarenakan engkau Allah memberikan hidayah pada seseorang, ini lebih baik bagi engkau daripada unta merah”.[1]

Dari Abi Hurairah radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa menyeru kepada petunjuk, maka adalah baginya ganjaran seperti ganjaran-ganjaran orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi sedikitpun dari ganjaran-ganjaran mereka”.[2]

Perhatikanlah wahai saudaraku keutamaan yang agung ini, sesungguhnya seorang da`i kepada Allah, mengalir baginya pahala dari seseorang yang mendapat hidayah disebabkan dakwahnya sementara dia tidur ditempat tidurnya, atau dia sibuk dengan kemaslahatan (kepentingan)-nya. Bahkan pahala itu akan terus mengalir padanya setelah dia meninggal dan tidak akan terputus sampai hari kiamat.

Selanjutnya, saya memperingatkan diri saya dan saudara-saudara saya dengan wasiat yang saya harapkan semoga dapat menjadi rambu-rambu yang bisa dia dijadikan sebagai penerang dalam berdakwah kepada Allah Jalla wa `Alaa.

Pertama :   Saya wasiatkan seorang da`i yang berdakwah kepada Allah hendaklah ikhlas dalam dakwahnya. Sungguh Allah Ta`ala telah menuntunkan demikian dengan firmanNya :

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah : "Inilah jalanku, saya dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah dengan ilmu,  Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf : 108)

Berkata as Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahhaab rahimahullahu Ta`ala : “Padanya (dakwah kepada Allah Ta’ala) ada beberapa permasalahan, diantaranya adalah peringatan terhadap ikhlas, karena kebanyakan orang kalau dia menyeru kepada kebenaran maka dia mengajak kepada dirinya[3].

Berkata al Imam as Syaafi`ii rahimahullahu Ta`ala : “Saya menyenangi bahwa manusia mempelajari ilmu ini dan dia tidak menisbahkan kepada saya sedikitpun”.

Dan Nabi Musa `Alaihis Sholaatu was Salaam ketika Allah Ta`ala memerintahkannya mendakwahi Fir`aun maka dia meminta kepadaNya rizqi supaya baik dalam menjelaskan apa yang dia inginkan, bukan dia ingin dikatakan sebagai khathiib, atau seorang yang fasih dalam berbicara, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhaana wa Ta`ala bahwa dia berkata :

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي

“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku”. (QS. Thohaa : 27)

Kedua :   Diwajibkan kepada seorang da`i yang mengajak ummat kepada Allah Jalla wa `Alaa untuk membekali dirinya dengan ilmu syar`i. Sebagaimana Allah Ta`ala berfirman kepada NabiNya Shollallahu `alaihi wa Sallam :

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu”. (QS. Thohaa : 114)

Sesungguhya seseorang dengan ilmu syar’i ini, dakwahnya akan lebih dekat dengan dakwah Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam. Dan hal yang demikian ini sangat pantas bagi seseorang untuk diterima dakwahnya.

Berkata al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta`ala : “Dan apabila dakwah kepada Allah merupakan kedudukan seorang hamba yang paling mulia, paling agung serta paling utama, maka dakwah tersebut tidak akan berhasil kecuali dengan ilmu, yang dia berdakwah dengan ilmu tersebut kepada Allah Tabaaraka wa Ta`ala. Bahkan lebih sempurnanya dakwah merupakan kewajiban untuk mencapai ilmu agar tujuan dakwah tersebut dapat dicapai secara maksimal. Dan cukuplah ini bentuk mulianya ilmu tersebut, dimana seorang yang berilmu menduduki posisi ini dan Allah Ta`ala memberikan keutamaanNya kepada siapa yang Dia kehedaki”.[4]

Ketiga : Firman Allah Ta`ala telah menunjukkan :

اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yaasin : 21)

Dan firman Allah Ta`ala :

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

“Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (QS. Shood : 86)

Sesungguhnya siapapun yang memenuhi dua perkara ini maka adalah dakwahnya wajib diterima. Dua perkara itu adalah : Jangan dia mengambil upah dari dakwahnya selain apa yang dia harapkan dari Rabbnya. Hendaklah dia sebagai orang yang menyampaikan hidayah, meliputi hidayah pada dakwahnya dan hidayah pada dirinya. Maka dalam hal ini terkandung peringatan kepada seorang da`i yang mengajak manusia kepada Allah Jalla wa `Alaa hendaknya dia berdakwah dengan ucapan dan amalan.

Keempat : Sabar dalam berdakwah kepada Allah Ta`ala, sebagaimana Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman :

وَالْعَصْرِ # إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ # إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al `Ashr : 1-3)

Allah Ta`ala berfirman :

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِّن نَّهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul yang telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari, (inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (QS. Al Ahqaaf : 35)

Dan diantara tuntutan kesabaran adalah jangan memperpanjang jalan dan tidak tergesa-gesa untuk mendapatkan hasil.  Dari Khabbaab ibnul Irits radhiallahu `anhu, beliau berkata : Kami telah mengadu kepada Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam sementara beliau sedang tidur dengan beralaskan baju luar beliau di naungan Ka`bah, lantas kami berkata : “Kenapa engkau tidak minta pertolongan untuk kami? Kenapa engkau tidak mendo`akan bagi kami?”, maka beliau Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda:

قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهَا فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَاللَّهِ لَيَتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian pernah disiksa seorang lelaki, digali lubang di tanah untuk dia lalu dimasukan kedalamnya, kemudian didatangkan gergaji dan diletakan di atas kepalanya, dijadikan dua bagian, lalu disisir kepalanya dengan sisir yang terbuat dari besi sampai ke daging dan tulangnya, namun yang demikian tidak menghalangi dia dari Din (agama)nya. Dan demi Allah! Betul-betul Allah Ta`ala akan mewujudkan perkara ini, sampai-sampai seseorang akan menaiki kendaraannya dari Shon`aa menuju Hadhramauut dan dia tidak takut kecuali kepada Allah dan demikian juga kambing dari serigala, akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa”.[5]

Kelima : Wajib bagi para da`i dan selain mereka mengetahui bahwa da`watul Islam ini adalah dakwah `alamiyah (mendunia), wajib untuk menyebarkannya dan disampaikan kepada seluruh manusia, baik di timur atau di barat, agar hujjah sudah ditegakkan atas manusia, supaya dakwah Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam sampai kepada setiap orang yang beliau diutus kepada mereka, sebagaimana Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”. (QS. Sabaa` : 28)

Sungguh para da`i yang meng-ishlah (melakukan perbaikan) sebagai pewaris para Rasul `Alaihimus Sholaatu was Salaam telah mengetahui kewajiban ini, maka bangkitlah mereka untuk menjelaskannya kepada manusia sebagai bentuk ketaatan mereka terhadap perintah Rabb mereka ketika Allah Ta`ala berfirman :

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali `Imraan : 104)

Telah berkata Samaahatus Syaikh al Imam al `Allaamah Ibnu Bazz rahimahullahu Ta`ala : Diwajibkan kepada seluruh orang yang mampu dari kalangan ulama dan pemimpin kaum muslimin serta para da`i agar berdakwah kepada Allah, sehingga dakwah tersebut sampai ke seluruh dunia, pada seluruh sisi negara di dunia, dan inilah penyampaian yang telah Allah Ta`ala perintahkan dengannya. Allah Ta`ala telah berfirman kepada NabiNya Shollallahu `alaihi wa Sallam :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. Al Maaidah : 67)

Maka kewajiban Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam hanya menyampaikan, dan demikian juga para Rasul `Alaihimus Sholaatu was Salaam tugas mereka menyampaikan, serta kepada para pengikut mereka hendaklah mereka menyampaikan.

Dari Abdullah bin `Amr radhiallahu `anhuma bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dari saya, walaupun satu ayat!”[6]

Dan bukan satu hal yang tersembunyi atas setiap orang bagi dirinya ada sedikit ilmu dan bashiirah (petunjuk) bahwa dunia Islam pada hari ini, bahkan dunia secara keseluruhannya, sangat berhajat (butuh) kepada dakwah Islamiyah yang shahih (benar), yang akan men-syarahkan (menjelaskan) kepada manusia haqiqat Islam, serta menjelaskan kepada mereka hukum-hukum dan kebaikan Islam itu sendiri. Oleh karena itu maka tampaklah oleh setiap penuntut ilmu bahwa berdakwah kepada Allah Ta`ala merupakan diantara hal yang sangat penting. Sesungguhnya ummat di setiap zaman dan tempat sangat berhajat kepada dakwah, bahkan sangat-sangat merasa butuh kepadanya.

Maka diwajibkan kepada ahli ilmu dimanapun mereka berada untuk menyampaikan da`watullahi Tabaaraka wa Ta`ala, dan hendaklah mereka sabar dalam berdakwah. Hendaklah dakwah mereka bersumber kepada al Quran dan as Sunnah as Shohiihah, di atas jalan Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam dan para shahabatnya dan di atas manhaj (methode) as Salafus Sholih radhiallahu `anhum ajma`iin.

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

 

Diterjemahkan oleh al Ustadz Abul Mundzir Dzul Akmal bin Muhammad Kamal Lc  ar Riyauwiy al Madaniy as Salafiy, dari kitab : “ad Durarul Muntaqaat minal Kalimaatil Mulqoot, Duruusun Yaumiyyah”, halaman 313-317, oleh ad Doktor Amiin bin `Abdullah as Syaqaawiy

Rimbo Panjang, KM 19 ½ kompleks Ponpes Ta`zhiimus Sunnah as Salafiyah, jalan Raya Pekanbaru Bangkinang, hari Selasa ba`da sholat `Ashar 14 Dzul Hijjah 1430 H/01 Desember 2009 M.

Buletin Ta'zhim As-Sunnah Edisi 06/IV/6 Shafar 1431 H


[1] Muslim (2406).

[2] Muslim (2674).

[3] Kitaabut Tauhiid, halaman 16.

[4] “At Tafsiirul Qayyim”, halaman 319.

[5] Shohiih al Bukhaariy (6943).

[6] Shohiih al Bukhaariy (3461).