Mengenal tentang Syi'ah (Rafidhah) PDF Cetak E-mail
Kategori : Buletin | Dilihat : 684 kali
Sunday, 10 Jamadil Akhir 1431
Minggu, 23 Mei 2010 20:51

Oleh : Abu Anas Abdullah Al-Medani

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وبعد

Bagi sebagian orang, nama kelompok “Syi’ah“ mungkin masih sesuatu yang terasa asing di telinga mereka. Akan tetapi bagi sebagian lagi, nama ini sudah sering mereka dengar, apalagi ketika terjadi peristiwa perang teluk, yakni ketika Iraq dibawah pimpinan Saddam Husein menyerang Iran. Namun demikian kebanyakan mereka tidak paham dan tidak mengerti, apa sebenarnya “ Syi’ah “ tersebut dan apa aqidahnya, dan bahkan diantara mereka berprasangka baik terhadap mereka dengan menganggap mereka sebagai bagian dari kaum muslimin. Dan semua ini tidaklah terjadi kecuali karena sudah semakin jarangnya dan bahkan hampir-hampir tidak ada lagi pembahasan yang menjelaskan tentang hakikat mereka. Padahal aqidah dan keyakinan yang ada pada mereka adalah aqidah yang menghantam ushul-ushul (pondasi) Islam dan menghancurkan syari’at Islam, dimana mereka mendustakan Al-Qur’an yang ada di tangan-tangan kebanyakan kaum muslimin, menghina dan mencaci para sahabat terutama Abu Bakar, Umar dan Utsman رضى الله عنهم dan menuduh mereka dengan tuduhan-tuduhan yang keji. Dan bahkan mereka berani melecehkan Allah سبحانه وتعالى. Ini semua dapat kita ketahui dari kitab-kitab mereka yang dikarang oleh tokoh-tokoh mereka.

Adapun awal munculnya Syi’ah, bermula dari seorang tokoh Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’. Dimana ia menampakkan dirinya sebagai seorang muslim pada masa kekhilafahan Utsman رضى الله عنه dan menda’wahkan mencintai ahlul bait. Dan kemudian bersikap ghuluw (melampaui batas) terhadap Ali رضى الله عنه dengan menyatakan bahwa Ali رضى الله عنه adalah nabi dan bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم  telah mewasiatkan kekhalifahan setelahnya kepada beliau, sementara Abu Bakar, Umar dan Utsman telah merampas hak tersebut dari beliau. Dan kemudian da’wahan ini terus berlanjut hingga menempatkan Ali sama dengan kedudukan Allah سبحانه وتعالى. Dan ini semua diakui oleh kitab-kitab mereka sendiri.

Berkata Al Qummy di dalam kitabnya “Al-Maqaalaatu fil Firaq, Hal : 10-21”: “Dan diakui keberadaannya[1], dan dinilai sebagai orang yang pertama kali berkata tentang wajibnya kedudukan sebagai Imam bagi Ali dan akan kembalinya dia[2], dan menampakkan celaan terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman dan seluruh sahabat”. Sebagaimana yang demikian juga dikatakan oleh An Nubakhti dalam kitabnya “ Firaqus Syi’ah, hal : 19-20”, dan disebutkan juga oleh Al Kasyi dalam kitabnya “ Rijaalul Kasyi, hal: 106-108 “[3].

Adapun aqidah mereka tentang Allah سبحانه وتعالى , maka mereka mensifati Allah سبحانه وتعالى dengan Al Badaa’, yakni bahwasanya Allah سبحانه وتعالى mengetahui sesuatu yang sebelumnya Allah tidak mengetahui.

Diriwayatkan dari Ar Rayyan bin As Shalty, dia mengatakan : “Aku mendengar Ridho mengatakan :” Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun kecuali dengan pengharaman khamr dan menetapkan bagi Allah sifat Al Badaa’[4]”.

Dan dari Abi Abdillah (Ja’far Shadiq)[5] bahwasanya dia mengatakan :” Tidaklah Allah diibadahi dengan sesuatu yang lebih utama dari mensifati Allah dengan Al Badaa’[6].

Lihatlah bagaimana Syi’ah mensifati Allah سبحانه وتعالى dengan kebodohan, yakni bahwasanya Allah سبحانه وتعالى sebelumnya tidak mengetahui sesuatu kemudian mengetahuinya. Padahal Allah سبحانه وتعالى telah menyebutkan tentang diri-Nya di dalam Al Qur’an :

وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya : “Ketahuilah, Sesungguhnya Allah terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui” (QS. Al Baqarah : 231)

Dan kebalikan dari itu, mereka mereka meyakini bahwa imam-imam mereka[7] mengetahui hal gaib dan tidak tersembunyi atas mereka sesuatu apapun, mereka mengetahui seluruh bahasa yang ada di alam ini, dan bahkan mereka meyakini bahwasanya mereka tidak akan  mati kecuali kalau mereka berkehendak untuk mati.

Disebutkan dalam “Al Kaafi[8] (1/258) dari Ja’far bahwasanya dia mengatakan : ”Sesungguhnya imam, apabila dia ingin mengetahui sesuatu maka pasti dia akan mengetahuinya, dan bahwasanya para imam mereka mengetahui kapan mereka mati, dan bahwasanya tidaklah mereka mati kecuali dengan pilihan mereka sendiri”.

Dan bahkan pendahulu mereka yang dikenal dengan Saba’iyah, mereka mengatakan kepada Ali رضى الله عنه : ”Engkaulah Rabb kami, pencipta kami dan yang memberi rezeki kepada kami[9]

Lihatlah bagimana mereka merampas hak Allah سبحانه وتعالى berupa pengetahuan tentang hal gaib, menciptakan, dan memberi rezki serta mematikan makhluk ini , kemudian mereka berikan sifat-sifat tersebut kepada imam-imam mereka.

Kalau demikian kelancangan mereka terhadap Allah سبحانه وتعالى, apalagi terhadap yang selain-Nya. Sehingga Khumaini menyebutkan dalam salah satu risalahnya[10] bahwa imam-imam mereka lebih afdhal dari pada para nabi dan rasul, dia mengatakan :” Sesungguhnya bagi imam kami ada kedudukan yang tidak sampai kepadanya malaikat yang dekat kepada Allah dan juga para rasul yang diutus”.

Mengenai sikap mereka terhadap para sahabat merupakan sikap yang terjeleknya bahkan lebih jelek daripada Yahudi dan Nashara. Sebab Yahudi dan Nashara masih mengakui keutamaan sahabat-sahabat nabi mereka. Adapun Syi’ah mereka melupakan dan tidak mengakui yang demikian. Bahkan mereka menjadikan celaan, cacian dan penghinaan serta pengkafiran terhadap para sahabat sebagai aqidah mereka.

Disebutkan dalam kitab mereka “Furu’ul Kaafi, hal : 115”, dari Ja’far, dia mengatakan : ”Adalah manusia (yakni para sahabat) menjadi murtad sepeninggal nabi صلى الله عليه وسلم kecuali tiga orang”, maka aku katakan:” Siapa tiga orang tersebut ?”, dia menjawab:” Al Miqdad bin Al Aswad, Abu Dzar Al Gifari dan Salman Al Farisi” .

Dan juga disebutkan dalam kitab mereka  “Haqqul Yaqin, hal:255”, bahwasanya telah berkata budak Ali bin Al Husain kepadanya :” Bagimulah hak untuk mendapatkan pelayanan, maka khabarkanlah kepadaku tentang Abu Bakar dan Umar?, maka dia berkata :” Sesungguhnya keduanya telah kafir, dan orang-orang yang mencintai mereka berdua maka telah kafir juga”.

Dan disebutkan dalam kitab mereka “Miftaahul Janaan, hal:114 ” do’a yang masyhur di sisi mereka :

اللهم صلى على محمد وعلى ال محمد والعن صنمى قريش وجبتيهما وطغوتيهما وابنيتيهما...الخ

“ Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya dan laknatlah dua berhala Qurais dan kedua tukang sihirnya dan kedua thagutnya dan anak perempuan keduanya…dan seterusnya”. Yang mereka maksudkan  adalah Abu Bakar, Umar, A’isyah dan Hafshah رضى الله عنهم اجمعين .

Dan orang Syi’ah memiliki hari besar yang mereka rayakan pada hari ‘Asyuraa, dimana pada hari itu mereka mendatangkan seekor anjing yang diberi nama Umar, kemudian mulailah mereka menyiksanya yakni memukulnya dengan menggunakan tongkat kayu, kemudian setelah itu mereka melemparinya dengan batu hingga mati. Kemudian mereka mendatangkan seekor anak kambing yang mereka berinama A’isyah, setelah itu mereka mencukur bulu-bulunya kemudian memukulnya dengan sepatu-sepatu mereka hingga mati[11].

Demikian juga mereka merayakan hari terbunuhnya Umar bin Khattab رضى الله عنه sebagai hari besar mereka, dan menamakan pembunuhnya Abu Lu’lu’ah Al Majusi dengan “Baaba Syujaa’ud diin” (sang pemberani dalam agama)[12]. Bahkan mereka membangun kuburannya dan menziarahinya pada hari tersebut.

Lihatlah bagaimana besarnya kebencian mereka terhadap para sahabat rasulullah صلى الله عليه وسلم dan mengerikannya hinaan dan cacian mereka terhadap orang-orang yang Allah telah mengatakan tentang mereka :

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya : “ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.(QS. At Taubah :100)

Dan juga berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“ Janganlah kalian mencela sahabatku, maka demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau seandainya salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud belum bisa menandingi satu mud yang diinfakkan oleh salah seorang mereka bahkan setengahnya”. (HR. Bukhari, Muslim)

Adapun aqidah mereka tentang Al Qur’an yang berada di tangan kebanyakan kaum muslimin, maka mereka mengatakan sesungguhnya Al Qur’an ini bukanlah Al Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad صلى الله عليه وسلم , bahkan ini Al Qur’an yang sudah dirubah-rubah, diganti, ditambah-tambah dan dikurangi, sebagaimana yang disebutkan oleh An Nuuri At Thabarasi[13] dalam kitabnya “Fashlul Khitab Fi Tahriifi Kitaabi Rabbil Arbaab, hal: 32”.

Lihatlah bagaimana mereka hendak mendustakan Allah سبحانه وتعالى yang telah mengatakan di dalam Al Qur’an :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan Sesungguhnya kami benar-benar akan memeliharanya”. (QS. Al Hijr : 9)

Dan mengenai sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah[14], adalah menghalalkan untuk menumpahkan darah dan mengambil harta mereka. Diriwayatkan dari Daud bin Farqad, dia berkata :” Aku berkata kepada Abu Abdillah : “Apa pandangan kamu tentang Nawasib[15]?”, dia mengatakan : “Halal darahnya, akan tetapi aku khawatir terhadap dirimu !, Kalau kamu mampu merobohkan dinding sehingga menimpa mereka atau kamu menenggelamkan mereka di lautan agar jangan ada orang yang menyaksikan kamu, maka lakukan!”. Kemudian aku katakan lagi : “Apa pandangan kamu tentang hartanya?”, dia menjawab : “Ambil semampu kamu !”[16].

Selain itu, Syi’ah juga menghalalkan hubungan perzinaan yang dinamakan dengan “MUT’AH”, yakni seorang wanita menikah dengan seorang lelaki sampai batas waktu yang ditentukan, dan apabila telah habis waktunya maka mereka berpisah[17]. Dan seorang lelaki Syi’ah boleh me-mut’ah sebanyak-banyaknya wanita syi’ah, demikian juga seorang wanita Syi’ah boleh di-mut’ah oleh sebanyak-banyaknya dari para lelaki Syi’ah. Dan tidak berakhir sampai di situ saja, bahkan mereka menganggap yang demikian memiliki keutamaan yang besar.

Disebutkan dalam kitab “Manhajus Shadiqiin[18], hal:356”, dari Ja’far As Shadiq, bahwasanya dia mengatakan: “Mut’ah bagian dari agamaku dan agama bapakku, barangsiapa yang mengamalkannya maka dia telah beramal dengan agama kami, dan barangsiapa yang mengingkarinya maka dia telah mengingkari agama kami dan bahkan dia telah beragama dengan selain agama kami, dan anak yang dilahirkan dari mut’ah lebih afdhol daripada anak yang dilahirkan dari nikah yang terus-menerus[19], dan orang yang mengingkari mut’ah maka dia kafir murtad dari agama".

Cukuplah sebagai bantahan, kita tampilkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang sangat diagungkan oleh mereka, yakni Ali bin Abi Thalib رضى الله عنه dalam hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari (No:4216) dan Muslim (No:1407) :

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : " أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ "

“Dari Ali bin Abi Thalib رضى الله عنه : ”Bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang dari memut’ah wanita pada hari Khaibar, dan dari memakan daging keledai jinak”.

Dan diantara aqidah bathil yang ada pada Syi’ah adalah yang mereka namakan dengan “TAQIYAH”. Berkata seorang tokoh mereka yang hidup di abad 12, Syeikh Yusuf Al Bahraani : “Yang dimaksud dengannya adalah menampakkan bahwa kita mencocoki lawan kita dengan apa-apa yang mereka berkeyakinan dengannya, jika merasa khawatir dengannya”.

Lihatlah! Inilah hakikat kemunafikan, menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di batinnya. Allah Ta’ala mengatakan tentang orang munafik :

وَإِذَا لَقُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُواْ إِنَّا مَعَكْمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Artinya : “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami Telah beriman", dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami bersama kalian, kami hanyalah berolok-olok." (QS. Al Baqarah : 14)

Dan Allah Ta’ala juga mengatakan :

يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِم مَّا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ

Artinya : “Mereka mengatakan dengan mulut-mulut mereka apa-apa yang berbeda dengan yang ada di hati mereka, dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan”. (QS. Ali Imran : 167)

Inilah hakikat aqidah Taqiyah yang ada di sisi orang-orang Syi’ah yakni kemunafikan, dan bahkan mereka menganggap yang demikian merupakan kewajiban dan bahagian dari agama mereka.

Telah meriwayatkan Al Kalini dan selainnya dari Ja’far As Shadiq bahwasanya dia mengatakan : “ Taqiyah adalah agamaku dan agama bapakku, dan tidak ada keimanan bagi orang yang tidak ada sifat taqiyah padanya”[20].

Dan dari Hubaib bin Basyir dari Abi Abdillah bahwasanya dia mengatakan: “Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih saya sukai dari pada Taqiyah. Wahai Hubaib sesungguhnya barangsiapa yang memiliki sifat taqiyah maka Allah akan mengangkat derajatnya, wahai Hubaib barangsiapa yang tidak ada padanya sifat taqiyah maka Allah akan menghinakannya”[21].

Inilah diantara aqidah-aqidah yang ada di sisi orang Syi’ah. Suatu aqidah yang melecehkan syariat Islam yang suci ini. Aqidah yang dibangun di atas penyelisihan terhadap ajaran Islam, penghinaan terhadap para pembawa islam, para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم , dan bahkan pelecehan terhadap Allah سبحانه وتعالى . Yang menjadikan zina dan dusta sebagai amalan yang paling afdhol di sisi mereka. Sehingga berkatalah Imam As Syafi’i رحمه الله : “ Tidaklah aku melihat dari kalangan ahlul ahwa’ yang lebih pendusta dari pada Rafidhah (Syi’ah)”[22].

Berkata Ibnu Katsir رحم الله ketika menafsirkan surat Al Fath : 29 : “ Dan dari ayat ini berdalil Imam Malik رحم الله tentang kafirnya Rafidhah (Syi’ah), yang mereka membenci para sahabat رضوان الله عليهم , dia mengatakan : “Karena mereka membenci para sahabat, dan barangsiapa membenci para sahabat maka dia kafir berdasarkan ayat ini”.

Dan meriwayatkan Al Khallal dari Abu Bakar Al Marwazi, dia mengatakan: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan A’isyah, dia mengatakan : “Aku tidak melihat mereka (yang mencela sahabat tersebut) termasuk dalam Islam”.

Kita memohon kepada Allah سبحان وتعالى agar menyelamatkan kaum muslimin dari kejahatan dan tipu daya musuh-musuh islam yang berada di dalam tubuh kaum muslimin yakni dari kelompok-kelompok yang sesat dan menyimpang ataupun yang berada di luar Islam. Amiin.

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين


Buletin Ta'zhim As-Sunnah Edisi 14/IV/24 Rabi'uts Tsani 1431 H


[1] . Yakni Abdullah bin Saba’

[2] .Yang dikenal dikalangan syi’ah dengan “ RAJ’AH”, yakni bahwa Ali رضى الله عنه   akan kembali di akhir zaman untuk membalas kepada orang-orang yang telah menzoliminya dan merampas haknya. Dan bahwasanya Ali tidaklah dibunuh akan tetapi diangkat ke langit, dan yang dibunuh adalah syaithan yang dirubah bentuknya seperti Ali. Dan bahwasanya suara petir merupakan suara Ali dan halilintar merupakan cambuknya. Jelas ini merupakan kebathilan, sebab petir dan halilintar sudah ada sebelum adanya Ali رضى الله عنه .

[3] .Mereka ini adalah tokoh-tokoh terkemuka di kalangan Syi’ah dan dianggap sebagai ulama mereka.

[4] .Ushulul Kaafi Hal: 40, salah satu kitab Syi’ah

[5]. Yang perlu di-ingatkan di sini bahwa ja’far, Ali bin Husain dan ulama-ulama lainnya dari kalangan Ahlul bait, mereka berlepas diri dari keyakinan Syi’ah ini. Ucapan–ucapan ini adalah kedustaan yang dibuat-buat oleh Syiah kemudian disandarkan kepada mereka untuk menyokong aqidah dan keyakinan Syi’ah tersebut

[6] .Ushulul Kaafi ,Hal: 1/331, salah satu kitab Syi’ah

[7] . Syiah meyakini bahwasanya akan muncul imam-imam dari keturunan Ali yang berjumlah dua belas.

[8] . Salah satu kitab Syi’ah

[9] . Lihat “Fathul Baari :12/270”

[10] .”Wilayaatul Faqih, hal:61”

[11] . Lihat kitab “Tabdiidud Adzhallaam wa Tanbiihun Niaam, hal: 27” karya Syekh Ibrahim Jabhan حفظه الله  .

[12] . “Alkuna wal Alqab :2/55” karya Al Qummy.

[13] . Salah seorang tokoh Syi’ah

[14] . Yang dimaksud di sini adalah orang-orang  yang bukan termasuk kelompok syi’ah.

[15] . Yang mereka maksudkan dengan Nawashib adalah Ahlus Sunnah, adapun Nawashib di sisi Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang membenci Ali رضى الله عنه

[16] . Al Mahaasinun Nafsiyah hal: 166

[17] . Atau yang dikenal pada zaman kita ini dengan kawin kontrak

[18] . Salah satu kitab Syi’ah

[19] . Yakni nikah yang dikenal dikalangan kebanyakan kaum muslimin

[20] . Ushulul Kaafi :2/ hal:219

[21] . Al Barqy hal :287

[22] .Lihat “Ikhtisar Ulumil Hadits, hal:109”